Rabu, 19 Desember 2018

Spiritual dan Kultural pada HIV/AIDS Longterm


KEPERAWATAN HIV/AIDS



NAMA KELOMPOK 5:
IKA PUTRI NUR                  161.0045
KOKOH ABIMEI                 161.0055
OKTAVHIA PERMATA      161.0081
PUTRI AYU DEWI               161.0085




PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2018




















Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.



                                                                                                       Surabaya, 11 Desember  2018




Penulis


























DAFTAR ISI
Cover
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang................................................................................................................................................... 1
Bab 2 Tinjauan Pustaka
2.1 Psikoterapi Transpersonal
a.  Pengertian  ..................................................................................................................... 2
b.  Metode Psikoterapi Transpersonal  ................................................................................ 2
c.  Teknik Psikoterapi Transpersonal................................................................................... 4

2.2 Aplikasi Teknik Psikoterapi Transpersonal                                                                     6


Bab 3  Penutup
A.    Kesimpulan................................................................................................................... 7
Daftar Pustaka






























BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Psikoterapi transpersonal muncul sebagai pelebur antara tradisi-tradisi spiritual dan

kajian  psikologi  moderen  (Cortright,  1997).  Konsep  psikoterapi  transpersonal  saat  ini

menjadi pembahasan intens para pemerhati psikoterapi. Pemahaman mengenai psikoterapi

transpersonal digunakan dalam berhadapan dengan permasalahan psikologis  yang luas.

Dalam  perkembangannya,   psikoterapi   transpersonal       secara   eklektik   bersama   teknik

psikoterapi lainnya digunakan untuk menangani individu, misalnya dalam hal modifikasi

perilaku, asosiasi bebas, dan gestalt.

Pelaksanaan psikoterapi transpersonal sangat terkait dengan studi mengenai potensialitas tertinggi manusia dan pengalaman spiritual, serta adanya keyakinan terhadap zat tertinggi (Sundberg, Winebarger & Taplin, 2007). Fokus psikoterapi transpersonal, yang membedakannya dari psikoterapi yang lain, yaitu pada pengembangan diri menuju sesuatu yang berhubungan dengan spiritualitas (Rowan, 2002). Transpersonal meningkatkan kesadaran yang dapat melepaskan kekuatan dalam dan memiliki kekuatan yang akan membantu mencapai harmoni dalam diri (Effendy, 2006). Harmoni dalam diri yang terjadi membuat keselarasan pada diri seseorang sehingga akan nyaman dengan dirinya, orang lain, maupun lingkungan (Khim, dkk, 2005), dan merasakan dunia sekitar lebih indah dan harmonis karena dalam diri menjadi lebih utuh (Wilber, 2002 & Rowan, 2002). Dalam terapinya, psikologi transpersonal menggunakan banyak metode, antara lain visualisasi, afirmasi, release, guided imagery, psikosintesis, inner speech, dan penemuan sub kepribadian.

Penulis membahas salah satu metode dalam psikoterapi transpersonal, yaitu letting go, atau lebih dikenal di dalam dunia psikologi dengan istilah release, yang digunakan secara eklektik dalam berbagai teknik penanganan individu, sehingga diharapkan dapat diketahui manfaatnya dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis individu.






1





BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PSIKOTERAPI TRANSPERSONAL
 a. Pengertian

Transpersonal merupakan cabang ilmu psikologi yang membahas keadaan dan proses pengalaman manusia secara lebih mendalam dan luas, serta memiliki dimensi spiritual. Asumsi umum dalam psikologi transpersonal adalah pengalaman transpersonal melibatkan kesadaran yang lebih tinggi pada diri individu, yang mengungkap potensialitas tertinggi individu, dan menggunakan metode yang terlibat dalam pencapaian inspirasi (Sundberg, Winebarger, & Taplin, 2007). Psikoterapi transpersonal bekerja dengan membangun cara bagaimana individu mencapai kesadaran tertinggi. Individu diarahkan untuk mencapai tahap kesadaran tertinggi (altered state of consciousness) terhadap kondisi dirinya sehingga individu dapat menyadari penyebab dari permasalahannya, yang selanjutnya dapat diketahui solusi yang tepat untuk penanganannya (Vaughan, 1979).
Fokus psikoterapi transpersonal adalah pengembangan diri menuju suatu yang berhubungan dengan transpersonal berupa kesadaran, pengembangan diri, pengarahan diri sebagai navigator, kognisi, moral dan integral psikologi. Transpersonal tidak terbatas pada fisiologis, dan mind seperti fokus pada ilmu psikoneuroimmunologi, namun juga berupa transformasi kesadaran, mengintegrasikan pikiran, tubuh dan jiwa (mind, body, soul) sehingga terjadi keharmonisan atau keselarasan dalam diri individu (Davis, 1997; Rueffler, 1995; Tart, 1990; Vich, 1988).


b. Metode Psikoterapi Transpersonal

Penggunaan metode transpersonal dengan berbagai teknik dalam melakukan psikoterapi sepenuhnya bersifat eklektik, mencoba merangkum dan menyusun kembali berbagai macam teknik dan memahami sumber-sumber dari konsep-konsep psikologis dan religius dengan sudut pandang yang lebih luas. Psikoterapi ini digunakan untuk menangani berbagai macam permasalahan, mulai dari bagaimana menghilangkan ketergantungan terhadap sesuatu, sampai pada penanganan terhadap kondisi traumatis.


2

Berikut ini merupakan berbagai pendekatan yang digunakan secara eklektik bersama dengan pendekatan transpersonal (Sollod, 1993), diantaranya adalah: Rogers (1980),
menggunakan metode transpersonal dalam melakukan psikoterapi berupa client-centered therapy. Sollod (1982), Fodor (1971), dan Bakan (1958) menggunakan metode transpersonal dalam melakukan psikoterapi freudian yaitu mengutamakan pentingnya menuangkan analisis mimpi, atau mengutamakan analisis terhadap pikiran subconscious, kemudian menyadari pikiran tersebut, sehingga akhirnya dapat mengetahui penyelesaian dari permasalahan yang ada. Selain itu Ellis (1970) menggunakan metode transpersonal dalam menemukan insight pada pendekatan rational-emotive therapy. Kepner (1987) memberikan metode transpersonal dengan menggunakan teknik pengintegrasian kerja tubuh dengan psikoterapi gestalt. Penggunaan psikoterapi transpersonal dengan teknik visualisasi, afirmasi, dan release merupakan teknik yang biasa digunakan oleh psikoterapis kognitif. Penggunaan teknik tersebut dalam pendekatan kognitif bertujuan untuk memunculkan potensialitas tertinggi dari individu dengan mengarahkan dan menyadari pikiran dan perasaannya. Selain itu teknik tersebut menggunakan kemampuan pikiran

untuk membentuk pengalaman dan peristiwa positif yang akhirnya mempengaruhi respon fisiologis dan psikologis (Sollod, 1993).

Penelitian ilmiah yang menggunakan metode psikoterapi transpersonal terbukti efektif untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis pada individu. Studi yang dilakukan Hall (Siegel, 2003) menemukan bahwa visualisasi meningkatkan jumlah sel darah putih yang beredar dan juga tingkat timosin alfa-1, membantu menghasilkan perasaan nyaman, yang memperlihatkan bahwa sistem kekebalan dapat langsung mempengaruhi keadaan pikiran seseorang dan sebaliknya. Penelitian yang dilakukan Patterson (1999) pada komunitas penderita kanker di Washington mengungkapkan bahwa lebih dari 70% penderita kanker menggunakan lebih dari satu metode terapi alternatif non-medis seperti psikoterapi untuk meningkatkan kualitas hidup secara umum dan penanganan kanker yang diderita. Intervensi berupa afirmasi nilai personal pada penderita stres fisik dan psikis yang dilakukan oleh Creswell, Welch, Taylor, Sherman, Gruenewald dan Mann (2004) menunjukkan bahwa teknik afirmasi dapat meredam reaksi stres.



3

Beberapa penelitian lain yang menggunakan metode yang ada dalam psikoterapi transpersonal adalah: Tapas Acupressure Technique (TAT), guided imagery, dan hipnosis digunakan untuk mengurangi simptom depresi (Spiegel & Moore, 2000; Carr, Davis, Donaldson, Kippes, & Syrjala, 1995; Sloman, 1995; Baider, Uziely & De-Nour, 1994). Selain itu masih ada beberapa metode lain seperti: meditasi, psikosintesis, intuisi, yoga, biofeedback, breath training, fokus batin, visualisasi, dreamwork, perumpamaan, dan inner speech (Khim, 2005; Bonnadona, 2003; Margareth, 2002; Wilber, 2002; Sutherland, 2001; Boorstein, 2000; Greyson, 2000; Mills, 2000; Rowan, 2000; Kabat, 1992).




c. Teknik Release dalam Psikoterapi Transpersonal

Teknik release sering digunakan dalam psikoterapi transpersonal, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan emosi yang berkaitan dengan perasaan-perasaan yang biasanya mengganggu pada individu, dan perasaan tersebut ditekan secara tidak sadar (repress).

Istilah release dalam makalah ini, pada beberapa ahli sering digunakan dengan istilah letting go, namun pada intinya mengandung arti yang sama yaitu melepaskan. Bedell (dalam Prabowo, 2007) menggunakan istilah letting go untuk melepaskan emosi atau
perasaan terluka, marah, dendam, kebencian, serta komitmen yang salah terhadap orang lain. Selain itu juga berarti melepaskan perilaku yang mengganggu hubungan sosial, melepaskan perasaan dengan cara memaafkan, melepaskan ingatan-ingatan yang telah dikenali, dimiliki, dan dipahami untuk mencapai kesehatan, dan melepaskan emosi yang mengurung dan menekan agar menjadi bebas. Brucker (2002) menggunakan istilah letting go dan release bagi metode terapi kelompok.

Friedman, 2002 (dalam Prabowo, 2007) menggunakan istilah letting go sebagai cara melepaskan penilaian dan rasa dendam terhadap diri sendiri atau orang lain. Sheperd (2007) menggunakan istilah letting go berkaitan dengan melepaskan emosi, perasaan, dan bayangan, sedangkan istilah release digunakan untuk melepaskan emosi, perasaan yang kuat, dan energi. Corey (2005) menggunakan istilah letting go dalam pengertian melepaskan, berkaitan dengan luka dan dendam, dan rasa bersalah, serta pola-pola yang merusak diri sendiri, seperti pikiran, perasaan, dan perilaku.


4
Release berfungsi melatih individu menyadari dan menyelami perasaan yang menekan, kemudian melepaskan perasaan yang menekan tersebut. Menurut Sheperd (2003), segala sesuatu yang terjadi, perasaan dan pikiran negatif yang selama ini dimiliki seperti kuatir, cemas, takut, sedih, dan marah bersumber dari dalam diri individu. Dengan menggunakan teknik release, individu dapat menemukan makna hidup yang lebih dalam, merasa lebih bebas dan lebih tenang, juga dapat mengatasi gangguan perasaan dan pikiran-pikiran negatif yang dimiliki, serta menjadikannya optimis dalam menghadapi hidup (Wilber, 2000; Damasio,1999).

Menurut Rueffler (1995), individu mencoba mencari makna hidup yang lebih dalam dengan cara mengenali, menerima, mentransformasi, mengintegrasikan pola pikir lama yang membatasi, dan emosi-emosi yang mengikutinya. Dengan demikian, individu mempunyai kemampuan untuk mengenali, menerima, mentransformasi dan akhirnya mengintegrasikan pola pikirnya tersebut. Saat individu membuka dan menguraikan kembali permasalahannya dimasa lampau satu persatu, individu menyadari apa yang menyebabkan munculnya perasaan marah, takut, dan lainnya. Individu yang tidak menganggap apa yang terjadi pada dirinya berasal dari pengaruh luar, tidak akan terpengaruh hal yang merusak diri. Keberhasilan dalam melakukan release dapat membuka kesadaran tertinggi pada individu, menuju kebebasan diri yang tidak ternilai harganya.
Berikut tahapan teknik release (Levinson dalam Shepherd, 2003; Wilber 2002; &

Damasio, 1999):

1.    Fokus dan membiarkan perasaan yang sedang dialami datang (identify your feeling). Individu membuka diri menuju pengalaman penuh dari perasaan-perasaan individu terhadap berbagai peristiwa. Individu menerima apa adanya perasaan tersebut secara penuh.

2.    Menyelami perasaan tersebut (feel your feeling and individuate). Individu menyelami inti dari perasaan yang ada dalam dirinya. Individu membedakan antara perasaan yang sedang dialaminya dengan dirinya sendiri sebagai self.





5

3.   Setelah melewati tahap di atas, individu melepaskan (release) apa yang ditekan secara sadar dengan cara membiarkan diri merasakan perasaannya secara penuh. Perasaan tersebut dihadirkan ke dalam kesadaran tanpa ada penolakan untuk kemudian dilepas sepenuhnya. Selanjutnya proses release diulang sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi individu.


2.2  APLIKASI TEKNIK RELEASE DALAM PSIKOTERAPI TRANSPERSONAL UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS INDIVIDU

Menurut Ryff (1989), tingkat kesejahteraan psikologis merupakan hasil evaluasi atau penilaian individu terhadap dirinya yang merupakan evaluasi atas pengalaman-pengalaman hidupnya. Adapun dimensi kesejahteraan psikologis pada individu ada enam, yaitu penerimaan diri, hubungan yang positif dengan orang lain, pengembangan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan, dan kemandirian. Individu yang memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi dapat mengatasi permasalahan yang dihadapinya, namun pada individu yang memiliki permasalahan psikologis seperti stres, depresi dan lainnya, tentunya membutuhkan suatu penanganan dengan pendekatan psikoterapi agar kondisi kesejahteraan psikologisnya kembali stabil dan normal kembali.

Pada beberapa penelitian diketahui bahwa dengan melakukan proses release, individu dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis nya. Penelitian yang dilakukan Walker (2000) di sebuah rumah sakit di Inggris dengan terapi release pada 80 perempuan penderita kanker payudara menunjukkan secara signifikan terjadi perubahan ke arah positif pada tubuh dalam membangun sistem kekebalan tubuh. Penggunaan teknik release juga dilakukan oleh Erikson
(2007) untuk menangani klien yang mengalami phobia. Hasil penelitian fenomenologi tentang release oleh Fortunas (2007) menghasilkan suatu kesimpulan bahwa pengalaman kesadaran manusia bersifat polaritas, dimana manusia tidak akan menemukan hal-hal positif sebelum terjadinya hal yang negatif, dalam artian bahwa manusia melakukan suatu proses pemecahan masalah yang berkaitan dengan perubahan diri. Dalam proses pemecahan masalah dan pelepasan diri tersebut manusia melakukan proses release sehingga terbebas dari masalah yang memerangkapnya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa dengan melakukan proses release, individu dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis di dalam dirinya.

6

BAB 3

PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Aplikasi teknik release pada dasarnya hanya merupakan salah satu dari sekian banyak teknik di dalam psikoterapi transpersonal yang digunakan untuk membantu individu dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis di dalam diri. Dengan penggabungan berbagai teknik dalam psikoterapi transpersonal tentu asumsinya dapat membantu hasil yang lebih optimal pada individu. Pembahasan secara singkat tentang teknik release ini juga diharapkan menjadi stimulus untuk melakukan suatu penelitian yang lebih terukur dan dapat diaplikasikan, serta menjadi khasanah yang memperkaya pengetahuan tentang psikoterapi.







































7

DAFTAR PUSTAKA


Barr, L. (2003). A journey for your feelings and thoughts. Transpersonal psychotherapy: Searching for meaning under your pain. Nexus, Colorado’c Holistic Journal. http://www.nexuspub.com/journeys/transpersonal.htm

Beck, A. T. (1985). Depression: Causes and Treatment. Philadelphia: University of Pennsylvania Press

Burgess, C., Cornelius, V., Love, S., Graham, J., & Richards, M. (2005). Depression and anxiety in Women with Early Breast Cancer: Five Year Observational Cohort Study. BMJ. March 26, 330, 702

Campbell. (1976). Depresi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum

Creswell, J. D., Welch, W. T., Taylor, S. E., Sherman, D. K., Gruenewald, T. L., & Mann, T. (2004). Affirmation of Personal Values Buffers Neuroendocrine and Psychological Stress Responses. Journal of Personality and Social Psycology. UCLA Department of Psychology, Franz Hall

Damasio, A. (1999). The Feeling Of What Happens. Orlando : The Ecco Press

Davis, J. 1997. Psychology and The Transpersonal. http://www. Naropa.edu/faculty/johndavis/tp/tpintro7.html. Tanggal diakses 13 Maret 2006

Effendi, T. (2006). Meraih Sukses Dengan Pencerahan Diri. Jakarta : PT Elexmedia Komputindo


Goleman, D. (1980). The Psychotherapy Handbook. London. American Library Inc.

Gregor, M. S. (2005). Piece Of Mind . Terjemahan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka


La Haye. (2005). Bagaimana Mengatasi Depresi. Terjemahan. Batam : Gospel Press

Levine, E. G., & Targ, E. (2002). Spiritual Correlates of Functional Well-being in Women With Breast Cancer. Journal Integrative Cancer Therapies, I (2), 166 174


Prabowo, H. (2006). Transpersonal Training. Pelatihan Terapi Transpersonal. Juli 2006. Yogyakarta

Retnowati, S. (1990). Efektivitas Terapi Kognitif dan Terapi Perilaku pada Penanganan Gangguan Depresi. Thesis (tidak diterbitkan) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Retnowati. S. (2004). Depresi pada Remaja: Model Integrasi Penyebab Depresi dan Intervensi



Depresi pada Remaja. Disertasi (tidak diterbitkan) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Shepherd, P. (2003). Transforming The Mind. http://www.trans4mind.com/transformation May 2003

Soebroto, J. B. (2006). Pengertian Umum Tentang Kanker. Pelatihan Relawan Kanker 12 13 September 2006. Yogyakarta

Sollod, R. N. (1993). Integrating Spiritual Healing Approaches and Techniques into Psychotherapy. Tanggal diakses 16 Maret 2006.

Spiegel D, Moore R. (2000). Imagery and hypnosis in the treatment of cancer patients. Tanggal

diakses 16 Maret 2006. http: //www .innervisi onstudioi nc.com /orderguided_imagery.html#ws1. Department of Psychiatry and Behavioral Sciences, Stanford University.

Sollod, R. N. (1992). Psychotherapy with Anomalous Experiences. In R. Laibow, R. Soiled, & J.
Wilson (Eds.) Current perspectives on anomalous experiences and trauma (pp. 247-260).
Dobbs Ferry, New York : Treat Publications.

Tart, C. (1990). Altered States of Consciousness, 3rd edition. San Francisco: Harper

Vaughan.    (1979).    Transpersonal     Psychotherapy.    Tanggal     diakses    14    Maret      2006.

Walker, E. (2000). Study: Relaxation Techniques Help Cancer Patients London (Reuters)

April 15, 2000, 10:34 Am. Tanggal diakses 16 Maret 2006. http://www.innervisionstudioinc.com/research/


Yahya, H. (2006). Stres dan Depresi: Akibat Tidak Menjalankan Agama. Tanggal diakses 6 Mei 2006. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/09/humaniora/1314929.htm.

(2006). Depresi Setelah Serangan Jantung. Tanggal diakses 13 Juli 2006. http://www.pjnhk.go.id/berita artikel/page/3/