
NAMA KELOMPOK 5:
IKA PUTRI NUR 161.0045
KOKOH ABIMEI 161.0055
OKTAVHIA PERMATA 161.0081
PUTRI AYU DEWI 161.0085
PROGRAM STUDI S1
KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI
ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2018
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas
segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki
bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan
karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini.
Surabaya,
11 Desember 2018
Penulis
DAFTAR
ISI
Cover
Kata
Pengantar
Daftar
Isi
Bab
1 Pendahuluan
1.1
Latar Belakang................................................................................................................................................... 1
Bab
2 Tinjauan Pustaka
2.1 Psikoterapi
Transpersonal
a. Pengertian ..................................................................................................................... 2
b. Metode Psikoterapi Transpersonal ................................................................................ 2
c. Teknik Psikoterapi Transpersonal................................................................................... 4
2.2 Aplikasi
Teknik Psikoterapi Transpersonal 6
Bab
3 Penutup
A. Kesimpulan................................................................................................................... 7
Daftar
Pustaka
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Psikoterapi
transpersonal muncul sebagai pelebur antara tradisi-tradisi spiritual dan
kajian psikologi
moderen (Cortright, 1997).
Konsep psikoterapi transpersonal
saat ini
menjadi
pembahasan intens para pemerhati psikoterapi. Pemahaman mengenai psikoterapi
transpersonal
digunakan dalam berhadapan dengan permasalahan psikologis yang luas.
Dalam perkembangannya, psikoterapi transpersonal secara eklektik bersama teknik
psikoterapi
lainnya digunakan untuk menangani individu, misalnya dalam hal modifikasi
perilaku,
asosiasi bebas, dan gestalt.
Pelaksanaan psikoterapi
transpersonal sangat terkait dengan studi mengenai potensialitas tertinggi
manusia dan pengalaman spiritual, serta adanya keyakinan terhadap zat tertinggi
(Sundberg, Winebarger & Taplin, 2007). Fokus psikoterapi transpersonal,
yang membedakannya dari psikoterapi yang lain, yaitu pada pengembangan diri
menuju sesuatu yang berhubungan dengan spiritualitas (Rowan, 2002).
Transpersonal meningkatkan kesadaran yang dapat melepaskan kekuatan dalam dan
memiliki kekuatan yang akan membantu mencapai harmoni dalam diri (Effendy,
2006). Harmoni dalam diri yang terjadi membuat keselarasan pada diri seseorang
sehingga akan nyaman dengan dirinya, orang lain, maupun lingkungan (Khim, dkk,
2005), dan merasakan dunia sekitar lebih indah dan harmonis karena dalam diri
menjadi lebih utuh (Wilber, 2002 & Rowan, 2002). Dalam terapinya, psikologi
transpersonal menggunakan banyak metode, antara lain visualisasi, afirmasi, release, guided imagery, psikosintesis, inner
speech, dan penemuan sub kepribadian.
Penulis membahas salah satu
metode dalam psikoterapi transpersonal, yaitu letting go, atau lebih
dikenal di dalam dunia psikologi dengan istilah release, yang digunakan secara
eklektik dalam berbagai teknik penanganan individu, sehingga diharapkan dapat
diketahui manfaatnya dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis individu.
1
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PSIKOTERAPI TRANSPERSONAL
a. Pengertian
Transpersonal merupakan cabang
ilmu psikologi yang membahas keadaan dan proses pengalaman manusia secara lebih
mendalam dan luas, serta memiliki dimensi spiritual. Asumsi umum dalam
psikologi transpersonal adalah pengalaman transpersonal melibatkan kesadaran
yang lebih tinggi pada diri individu, yang mengungkap potensialitas tertinggi
individu, dan menggunakan metode yang terlibat dalam pencapaian inspirasi
(Sundberg, Winebarger, & Taplin, 2007). Psikoterapi transpersonal bekerja
dengan membangun cara bagaimana individu mencapai kesadaran tertinggi. Individu
diarahkan untuk mencapai tahap kesadaran tertinggi (altered state of consciousness) terhadap kondisi dirinya sehingga
individu dapat menyadari penyebab dari permasalahannya, yang selanjutnya dapat
diketahui solusi yang tepat untuk penanganannya (Vaughan, 1979).
Fokus psikoterapi transpersonal adalah pengembangan diri menuju suatu
yang berhubungan dengan transpersonal berupa kesadaran, pengembangan diri,
pengarahan diri sebagai navigator, kognisi, moral dan integral psikologi.
Transpersonal tidak terbatas pada fisiologis, dan mind seperti fokus pada ilmu psikoneuroimmunologi, namun juga
berupa transformasi kesadaran, mengintegrasikan pikiran, tubuh dan jiwa (mind, body, soul) sehingga terjadi
keharmonisan atau keselarasan dalam diri individu (Davis, 1997; Rueffler, 1995;
Tart, 1990; Vich, 1988).
b. Metode
Psikoterapi Transpersonal
Penggunaan metode transpersonal
dengan berbagai teknik dalam melakukan psikoterapi sepenuhnya bersifat
eklektik, mencoba merangkum dan menyusun kembali berbagai macam teknik dan
memahami sumber-sumber dari konsep-konsep psikologis dan religius dengan sudut
pandang yang lebih luas. Psikoterapi ini digunakan untuk menangani berbagai
macam permasalahan, mulai dari bagaimana menghilangkan ketergantungan terhadap
sesuatu, sampai pada penanganan terhadap kondisi traumatis.
2
Berikut ini merupakan berbagai
pendekatan yang digunakan secara eklektik bersama dengan pendekatan
transpersonal (Sollod, 1993), diantaranya adalah: Rogers (1980),
menggunakan metode transpersonal dalam melakukan
psikoterapi berupa client-centered therapy. Sollod (1982), Fodor (1971),
dan Bakan (1958) menggunakan metode transpersonal
dalam melakukan psikoterapi freudian yaitu mengutamakan pentingnya menuangkan
analisis mimpi, atau mengutamakan analisis terhadap pikiran subconscious, kemudian menyadari pikiran
tersebut, sehingga akhirnya dapat mengetahui penyelesaian dari permasalahan
yang ada. Selain itu Ellis (1970) menggunakan metode transpersonal dalam
menemukan insight pada pendekatan rational-emotive therapy. Kepner (1987)
memberikan metode transpersonal dengan menggunakan teknik pengintegrasian kerja
tubuh dengan psikoterapi gestalt. Penggunaan psikoterapi transpersonal dengan
teknik visualisasi, afirmasi, dan release
merupakan teknik yang biasa digunakan oleh psikoterapis kognitif. Penggunaan
teknik tersebut dalam pendekatan kognitif bertujuan untuk memunculkan
potensialitas tertinggi dari individu dengan mengarahkan dan menyadari pikiran
dan perasaannya. Selain itu teknik tersebut menggunakan kemampuan pikiran
untuk membentuk pengalaman dan peristiwa positif
yang akhirnya mempengaruhi respon fisiologis dan psikologis (Sollod, 1993).
Penelitian ilmiah yang
menggunakan metode psikoterapi transpersonal terbukti efektif untuk
meningkatkan kesejahteraan psikologis pada individu. Studi yang dilakukan Hall
(Siegel, 2003) menemukan bahwa visualisasi meningkatkan jumlah sel darah putih
yang beredar dan juga tingkat timosin alfa-1, membantu menghasilkan perasaan
nyaman, yang memperlihatkan bahwa sistem kekebalan dapat langsung mempengaruhi
keadaan pikiran seseorang dan sebaliknya. Penelitian yang dilakukan Patterson
(1999) pada komunitas penderita kanker di Washington mengungkapkan bahwa lebih
dari 70% penderita kanker menggunakan lebih dari satu metode terapi alternatif
non-medis seperti psikoterapi untuk meningkatkan kualitas hidup secara umum dan
penanganan kanker yang diderita. Intervensi berupa afirmasi nilai personal pada
penderita stres fisik dan psikis yang dilakukan oleh Creswell, Welch, Taylor,
Sherman, Gruenewald dan Mann (2004) menunjukkan bahwa teknik afirmasi dapat
meredam reaksi stres.
3
Beberapa penelitian lain yang
menggunakan metode yang ada dalam psikoterapi transpersonal adalah: Tapas Acupressure Technique (TAT), guided imagery, dan hipnosis digunakan
untuk mengurangi simptom depresi (Spiegel & Moore, 2000; Carr, Davis,
Donaldson, Kippes, & Syrjala, 1995; Sloman, 1995; Baider, Uziely &
De-Nour, 1994). Selain itu masih ada beberapa metode lain seperti: meditasi,
psikosintesis, intuisi, yoga, biofeedback, breath training, fokus batin,
visualisasi, dreamwork, perumpamaan,
dan inner speech (Khim, 2005;
Bonnadona, 2003; Margareth, 2002; Wilber, 2002; Sutherland, 2001; Boorstein, 2000; Greyson, 2000; Mills,
2000; Rowan, 2000; Kabat, 1992).
c. Teknik
Release dalam Psikoterapi Transpersonal
Teknik release sering digunakan dalam psikoterapi transpersonal, terutama
dalam kasus-kasus yang melibatkan emosi yang berkaitan dengan perasaan-perasaan
yang biasanya mengganggu pada individu, dan perasaan tersebut ditekan secara
tidak sadar (repress).
Istilah release dalam makalah ini, pada beberapa ahli sering digunakan
dengan istilah letting go, namun pada
intinya mengandung arti yang sama yaitu melepaskan. Bedell (dalam Prabowo, 2007) menggunakan istilah letting go untuk
melepaskan emosi atau
perasaan terluka, marah, dendam, kebencian, serta komitmen yang salah
terhadap orang lain. Selain itu juga berarti melepaskan perilaku yang
mengganggu hubungan sosial, melepaskan perasaan dengan cara memaafkan,
melepaskan ingatan-ingatan yang telah dikenali, dimiliki, dan dipahami untuk
mencapai kesehatan, dan melepaskan emosi yang mengurung dan menekan agar
menjadi bebas. Brucker (2002) menggunakan istilah letting go dan release bagi metode terapi kelompok.
Friedman, 2002 (dalam Prabowo,
2007) menggunakan istilah letting go
sebagai cara melepaskan penilaian dan rasa dendam terhadap diri sendiri atau
orang lain. Sheperd (2007) menggunakan istilah letting go berkaitan dengan melepaskan emosi, perasaan, dan
bayangan, sedangkan istilah release
digunakan untuk melepaskan emosi, perasaan yang kuat, dan energi. Corey (2005)
menggunakan istilah letting go dalam
pengertian melepaskan, berkaitan dengan luka dan dendam, dan rasa bersalah,
serta pola-pola yang merusak diri sendiri, seperti pikiran, perasaan, dan perilaku.
4
Release berfungsi melatih individu
menyadari dan menyelami perasaan yang menekan,
kemudian melepaskan perasaan yang menekan tersebut. Menurut Sheperd (2003),
segala sesuatu yang terjadi, perasaan dan pikiran negatif yang selama ini
dimiliki seperti kuatir, cemas, takut, sedih, dan marah bersumber dari dalam
diri individu. Dengan menggunakan teknik release,
individu dapat menemukan makna hidup yang lebih dalam, merasa lebih bebas dan
lebih tenang, juga dapat mengatasi gangguan perasaan dan pikiran-pikiran
negatif yang dimiliki, serta menjadikannya optimis dalam menghadapi hidup
(Wilber, 2000; Damasio,1999).
Menurut Rueffler (1995), individu
mencoba mencari makna hidup yang lebih dalam dengan cara mengenali, menerima,
mentransformasi, mengintegrasikan pola pikir lama yang membatasi, dan
emosi-emosi yang mengikutinya. Dengan demikian, individu mempunyai kemampuan
untuk mengenali, menerima, mentransformasi dan akhirnya mengintegrasikan pola
pikirnya tersebut. Saat individu membuka dan menguraikan kembali
permasalahannya dimasa lampau satu persatu, individu menyadari apa yang
menyebabkan munculnya perasaan marah, takut, dan lainnya. Individu yang tidak
menganggap apa yang terjadi pada dirinya berasal dari pengaruh luar, tidak akan
terpengaruh hal yang merusak diri. Keberhasilan dalam melakukan release dapat membuka kesadaran
tertinggi pada individu, menuju kebebasan diri yang tidak ternilai harganya.
Damasio,
1999):
1.
Fokus dan membiarkan perasaan
yang sedang dialami datang (identify your
feeling). Individu membuka diri menuju pengalaman penuh dari
perasaan-perasaan individu terhadap berbagai peristiwa. Individu menerima apa
adanya perasaan tersebut secara penuh.
2.
Menyelami perasaan tersebut (feel your feeling and individuate).
Individu menyelami inti dari perasaan yang ada dalam dirinya. Individu
membedakan antara perasaan yang sedang dialaminya dengan dirinya sendiri
sebagai self.
5
3.
Setelah melewati tahap di atas,
individu melepaskan (release) apa
yang ditekan secara sadar dengan cara membiarkan diri merasakan perasaannya
secara penuh. Perasaan tersebut dihadirkan ke dalam kesadaran tanpa ada
penolakan untuk kemudian dilepas sepenuhnya. Selanjutnya proses release diulang sesuai dengan masalah
yang sedang dihadapi individu.
2.2 APLIKASI TEKNIK RELEASE DALAM
PSIKOTERAPI TRANSPERSONAL UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS INDIVIDU
Menurut Ryff (1989), tingkat
kesejahteraan psikologis merupakan hasil evaluasi atau penilaian individu
terhadap dirinya yang merupakan evaluasi atas pengalaman-pengalaman hidupnya.
Adapun dimensi kesejahteraan psikologis pada individu ada enam, yaitu
penerimaan diri, hubungan yang positif dengan orang lain, pengembangan diri,
tujuan hidup, penguasaan lingkungan, dan kemandirian. Individu yang memiliki
kesejahteraan psikologis yang tinggi dapat mengatasi permasalahan yang
dihadapinya, namun pada individu yang memiliki permasalahan psikologis seperti
stres, depresi dan lainnya, tentunya membutuhkan suatu penanganan dengan
pendekatan psikoterapi agar kondisi kesejahteraan psikologisnya kembali stabil
dan normal kembali.
Pada beberapa penelitian
diketahui bahwa dengan melakukan proses release,
individu dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis nya. Penelitian yang
dilakukan Walker (2000) di sebuah rumah sakit di Inggris dengan terapi release pada 80 perempuan penderita
kanker payudara menunjukkan secara signifikan terjadi perubahan ke arah positif
pada tubuh dalam membangun sistem kekebalan tubuh. Penggunaan teknik release juga dilakukan oleh Erikson
(2007) untuk menangani klien yang mengalami phobia.
Hasil penelitian fenomenologi tentang release
oleh Fortunas (2007) menghasilkan suatu kesimpulan bahwa pengalaman
kesadaran manusia bersifat polaritas,
dimana manusia tidak akan menemukan hal-hal positif sebelum terjadinya hal yang
negatif, dalam artian bahwa manusia melakukan suatu proses pemecahan masalah
yang berkaitan dengan perubahan diri. Dalam proses pemecahan masalah dan
pelepasan diri tersebut manusia melakukan proses release sehingga terbebas dari masalah yang memerangkapnya.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa dengan melakukan
proses release, individu dapat
meningkatkan kesejahteraan psikologis di dalam dirinya.
6
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Aplikasi teknik release pada dasarnya hanya merupakan
salah satu dari sekian banyak teknik di dalam psikoterapi transpersonal yang
digunakan untuk membantu individu dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis
di dalam diri. Dengan penggabungan berbagai teknik dalam psikoterapi
transpersonal tentu asumsinya dapat membantu hasil yang lebih optimal pada
individu. Pembahasan secara singkat tentang teknik release ini juga diharapkan menjadi stimulus untuk melakukan suatu
penelitian yang lebih terukur dan dapat diaplikasikan, serta menjadi khasanah
yang memperkaya pengetahuan tentang psikoterapi.
7
Barr, L. (2003). A journey for
your feelings and thoughts. Transpersonal psychotherapy: Searching for meaning
under your pain. Nexus, Colorado’c
Holistic Journal. http://www.nexuspub.com/journeys/transpersonal.htm
Beck, A. T. (1985). Depression: Causes and Treatment.
Philadelphia: University of Pennsylvania Press
Burgess, C., Cornelius, V., Love,
S., Graham, J., & Richards, M. (2005). Depression and anxiety in Women with
Early Breast Cancer: Five Year Observational Cohort Study. BMJ. March 26, 330, 702
Campbell. (1976). Depresi.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum
Creswell, J. D., Welch, W. T.,
Taylor, S. E., Sherman, D. K., Gruenewald, T. L., & Mann, T. (2004).
Affirmation of Personal Values Buffers Neuroendocrine and Psychological Stress
Responses. Journal of Personality and
Social Psycology. UCLA Department of Psychology, Franz Hall
Damasio, A. (1999). The Feeling Of What Happens. Orlando :
The Ecco Press
Davis, J. 1997. Psychology and The
Transpersonal. http://www. Naropa.edu/faculty/johndavis/tp/tpintro7.html.
Tanggal diakses 13 Maret 2006
Effendi, T. (2006). Meraih
Sukses Dengan Pencerahan Diri. Jakarta : PT Elexmedia Komputindo
Goleman, D. (1980). The Psychotherapy Handbook. London.
American Library Inc.
Gregor, M. S. (2005). Piece Of Mind . Terjemahan. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka
La Haye. (2005). Bagaimana Mengatasi Depresi. Terjemahan.
Batam : Gospel Press
Levine, E. G., & Targ, E. (2002). Spiritual
Correlates of Functional Well-being in Women With Breast Cancer. Journal Integrative Cancer Therapies, I (2),
166 – 174
Prabowo, H. (2006). Transpersonal Training. Pelatihan
Terapi Transpersonal. Juli 2006. Yogyakarta
Retnowati, S. (1990). Efektivitas Terapi Kognitif dan Terapi Perilaku pada
Penanganan Gangguan Depresi. Thesis
(tidak diterbitkan) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada
Retnowati. S. (2004). Depresi pada
Remaja: Model Integrasi Penyebab Depresi dan Intervensi
Depresi pada Remaja. Disertasi
(tidak diterbitkan) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada
Soebroto, J. B. (2006). Pengertian Umum Tentang Kanker. Pelatihan Relawan Kanker 12 – 13
September 2006. Yogyakarta
Sollod, R. N. (1993). Integrating Spiritual Healing Approaches and Techniques
into Psychotherapy. Tanggal diakses 16 Maret 2006.
Spiegel
D, Moore R. (2000). Imagery and hypnosis in the treatment of cancer patients.
Tanggal
diakses 16 Maret 2006. http: //www
.innervisi onstudioi nc.com /orderguided_imagery.html#ws1. Department of Psychiatry and Behavioral Sciences, Stanford University.
Sollod,
R. N. (1992). Psychotherapy with
Anomalous Experiences. In R. Laibow, R. Soiled, & J.
Wilson
(Eds.) Current perspectives on anomalous experiences and trauma (pp. 247-260).
Dobbs
Ferry, New York : Treat Publications.
Tart, C.
(1990). Altered States of Consciousness,
3rd edition. San Francisco: Harper
Vaughan. (1979). Transpersonal Psychotherapy. Tanggal diakses 14 Maret 2006.
Walker,
E. (2000). Study: Relaxation Techniques Help Cancer Patients London (Reuters) –
April 15, 2000, 10:34 Am. Tanggal diakses 16 Maret 2006. http://www.innervisionstudioinc.com/research/
Yahya, H. (2006). Stres dan Depresi: Akibat Tidak Menjalankan Agama.
Tanggal diakses 6 Mei 2006. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/09/humaniora/1314929.htm.
(2006). Depresi Setelah Serangan Jantung. Tanggal diakses 13 Juli 2006. http://www.pjnhk.go.id/berita
artikel/page/3/