Rabu, 19 Desember 2018

Pengkajian spiritual dan kultural pada pasien dengan HIV.AIDS Longterm


KEPERAWATAN HIV/AIDS



NAMA KELOMPOK 5:
IKA PUTRI NUR                  161.0045
KOKOH ABIMEI                 161.0055
OKTAVHIA PERMATA       161.0081
PUTRI AYU DEWI              161.0085




PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2018



















Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.



                                                                                                       Surabaya, 11 Desember  2018




Penulis































DAFTAR ISI
Cover
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab 1 Pendahuluan
a.    Latar Belakang................................................................................................................ 1
b.    Rumusan masalah........................................................................................................... 3
c.    Tujuan penulisan............................................................................................................. 4
Bab 2 Tinjauan Pustaka
a.  Definisi HIV/AIDS........................................................................................................ 5
b.  Penyebab HIV/AIDS .................................................................................................... 5
c.  Penularan HIV/AIDS .................................................................................................... 6
d.  Diagnosa HIV/AIDS ..................................................................................................... 7
e.  Perjalanan HIV/AIDS.................................................................................................... 8
f.  Stadium Klinis HIV/AIDS............................................................................................. 10


B. PENGOBATAN HIV/AIDS
a. Antiretroviral terapi                                                                                                          11
b. Tujuan pengobatan ARV ................................................................................................ 11
c. Manfaat ARV                                                                                                                   11


Bab 3  Penutup
A.    Kesimpulan................................................................................................................... 12
Daftar Pustaka










































BAB I

PENDAHULUAN




A. Latar Belakang

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala-gejala penyakit infeksi atau keganasan tertentu yang timbul sebagai akibat menurunnya daya tahan tubuh (kekebalan) penderita (Rachimhadhi et.al, 1992). Gejala klinik umumnya adalah penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 1 bulan, diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus-menerus, demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan (Depkes, 1997).

Penyebab AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV), yaitu virus yang menyebabkan penurunan daya kekebalan tubuh. Virus ini adalah retrovirus yang termasuk dalam famili lentevirus. HIV menyebabkan beberapa kerusakan sistem imun dan menghancurkannya. Hal tersebut terjadi dengan menggunakan DNA dari CD4+ dan limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam proses itu, virus tersebut menghancurkan CD4+ dan limfosit (Nursalam dan Kurniawati, 2008).

Kasus AIDS dilaporkan pada tahun 1981, di Amerika Serikat. Sejak itu, kasus AIDS di dunia makin lama makin banyak dilaporkan dan merupakan persoalan kesehatan masyarakat di beberapa negara. Bahkan masalah AIDS mempunyai implikasi yang bersifat internasional dengan angka mortalitas 80% pada penderita. Chermann dan Barre Sinoussi (1985) melaporkan bahwa penderita AIDS di seluruh dunia mencapai lebih dari 12.000 orang diantaranya




1



10.000 kasus di Amerika Serikat, 400 kasus di Perancis dan sisanya di negara Eropa lainnya, Amerika Latin dan Afrika. Satu tahun kemudian dilaporkan bahwa jumlah kasus AIDS di Amerika meningkat menjadi 15.000 orang dan Perancis menjadi 445 orang (Anonim, 1992).

Di Indonesia pertama kali mengetahui adanya kasus AIDS pada bulan April tahun 1987, pada seorang warganegara Belanda yang meninggal di RSUP Sanglah Bali akibat infeksi sekunder pada paru-paru, sampai pada tahun 1990 penyakit ini masih belum mengkhawatirkan, namun sejak awal tahun 1991 telah mulai adanya peningkatan kasus HIV/AIDS menjadi dua kali lipat (doubling time) kurang dari setahun, bahkan mengalami peningkatan kasus secara ekponensial (Rasmaliah, 2001).

Kasus HIV/AIDS di Indonesia semakin meningkat. Di Indonesia sejak tahun 1999 telah terjadi peningkatan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) pada sub populasi tertentu di beberapa provinsi yang memang mempunyai prevalensi HIV cukup tinggi. Peningkatan ini terjadi pada kelompok orang berperilaku berisiko tinggi tertular HIV yaitu para pekerja seks komersial dan pengguna NAPZA suntikan di 6 provinsi: DKI Jakarta, Papua, Riau, Bali, Jabar dan Jawa Timur telah tergolong sebagai daerah dengan tingkat epidemi terkonsentrasi (concentrated level of epidemic). Bila masalah ini tidak ditanggulangi segera, kemungkinan besar epidemi akan bergerak menjadi epidemi yang menyeluruh dan parah (generalized epidemic) (Depkes, 2006).










2



Kumulatif kasus AIDS diperkirakan sampai pada jumlah 30.000-93.968 pada tahun 2002. Pada tahun 2010, diperkirakan ada 1 juta-5 juta kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut diperkirakan sebanyak 10.000 ODHA yang membutuhkan ART (Terapi Antiretroviral) segera (Depkesa, 2006).

Masalah yang dihadapi dalam penanganan kasus HIV/AIDS adalah kesulitan dalam mendapatkan obat, mahalnya harga obat antiretroviral (ARV) dan kurangnya informasi dan pemahaman tentang HIV/AIDS. ARV generik buatan Indonesia sudah tersedia namun belum didukung oleh kesiapan tenaga medis dan apoteker dalam mendukung keberhasilan terapi (Depkesa, 2006).

Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta karena rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit pendidikan dan terdapat 64 kasus HIV/AIDS pada tahun 2009. Dan HIV/AIDS termasuk kasus yang jarang terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta tahun 2009. Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui bagaimanakah gambaran penggunaan antiretroviral dan apakah penggunaan antiretroviral untuk HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta tahun 2009 sudah sesuai dengan standar yang ada.

b. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pola pengobatan antiretroviral pada pasien HIV/AIDS di RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode tahun 2009?

2.      Bagaimana kesesuaian pola pengobatan antiretroviral pada pasien HIV/AIDS tersebut dengan Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2007?




3

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1.    Mengetahui pola pengobatan dengan antiretroviral pada pasien HIV/AIDS di RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode tahun 2009.

2.    Mengetahui kesesuaian pola pengobatan antiretroviral pada pasien HIV/AIDS tersebut dengan standar Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2007.



























4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA


a. Definisi HIV/AIDS

HIV/AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang mengakibatkan rusaknya/ menurunnya sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit (Rasmaliah, 2001).Virus ini ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairan vagina, dan ASI (Air Susu Ibu). Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan
turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi (Depkes, 2007).

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC) definisi AIDS adalah semua yang dinyatakan mengidap infeksi HIV dengan jumlah CD4 limfosit T kurang dari 200 sel/L. Penyakit-penyakit yang merupakan petunjuk adanya AIDS adalah tuberculosis paru, pneumonia bakterial berulang dan kanker serviks yang invasif (Adler, 2001). AIDS merupakan stadium akhir infeksi HIV. Penderita dinyatakan sebagai AIDS bila dalam perkembangan infeksi HIV selanjutnya menunjukkan infeksi-infeksi yang mengancam jiwa penderita (Anonim, 2001).

b. Penyebab HIV/AIDS

Penyebab HIV/AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV), yaitu virus yang menyebabkan penurunan daya kekebalan tubuh. Virus ini adalah retrovirus yang termasuk dalam famili lentevirus. HIV mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA pejamu untuk membentuk virus DNA dan dikenali selama periode inkubasi yang panjang. Seperti retrovirus yang lain, HIV menginfeksi tubuh dengan periode inkubasi yang panjang (klinik-laten), dan utamanya menyebabkan munculnya tanda dan gejala AIDS. HIV menyebabkan beberapa kerusakan sistem imun dan menghancurkannya. Hal tersebut terjadi
5
dengan menggunakan DNA dari CD4+ dan limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam proses itu, virus tersebut menghancurkan CD4+ dan limfosit (Nursalam dan Kurniawati, 2008)
Virus ini mempunyai kemampuan yang unik untuk mentransfer informasi genetik mereka dari RNA ke DNA dengan menggunakan enzim yang disebut dengan reverse transcriptase, cara ini merupakan kebalikan dari proses transkripsi (dari DNA ke RNA) dan translasi (dari RNA ke protein) (Muma et. al, 1997).

c. Penularan HIV/AIDS

HIV terdapat dalam cairan tubuh seseorang seperti darah, cairan kelamin (air mani atau cairan vagina yang telah terinfeksi) dan air susu ibu yang telah terinfeksi. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yaitu sindrom menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit karena sistem kekebalan tubuh penderita telah menurun (Depkesa, 2006).
Virus  HIV  menular  melalui  enam  cara  penularan  (Nursalam  dan

Kurniawati, 2008) yaitu :

1) Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS

Hubungan seksual secara vaginal, anal, dan oral dengan penderita HIV tanpa perlindungan bisa menularkan HIV. Selama hubungan seksual berlangsung, air mani, cairan vagina, dan darah dapat mengenai selaput lendir vagina, penis, dubur, atau mulut sehingga HIV yang terdapat dalam cairan tersebut masuk ke aliran darah.
2) Ibu pada bayinya

Penularan HIV dari ibu bisa terjadi pada saat kehamilan (in utero). Berdasarkan laporan CDC Amerika, prevalensi peularan HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01% sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS, kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%, sedangkan kalau gejala AIDS sudah jelas pada ibu kemungkinannya mencapai 50%, penularan juga terjadi selama proses persalinan melalui transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau membran mukosa bayi dengan darah atau sekresi
6
maternal saat melahirkan. Semakin lama proses melahirkan, semakin besar risiko penularan.
Oleh karena itu, lama persalinan bisa dipersingkat dengan operasi sectio caesari. Transmisi lain terjadi selama periode post parturm melalui ASI. Risiko bayi tertular melalui ASI dari ibu yang positif sekitar 10%.

3) Darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS

Sangat cepat menularkan HIV karena virus langsung masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

4) Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril

Alat pemeriksaan kandungan seperti spekulum, tenakulum, dan alat-alat lain yang dapat menyentuh darah, cairan vagina atau air mani yang terinfeksi HIV, dan langsung digunakan untuk orang lain yang tidak terinfeksi bisa menularkan HIV.

5) Alat-alat untuk menoreh kulit
Alat tajam dan runcing seperti jarum, pisau, silet, menyunat seseorang, membuat tato, dan sebagainya bisa menularkan HIV sebab alat tersebut mungkin dipakai tanpa disterilkan terlebih dahulu.

6) Menggunakan jarum suntik secara bergantian

Jarum suntik yang digunakan di fasilitasi kesehatan, maupun yang digunakan oleh para pengguna narkoba (injecting Drug User-UDU) sangat berpotensi menularkan HIV. Selain jarum suntik, pada para pemakai UDU secara bersama-sama juga menggunakan tempat penyampur, pengaduk, dan gelas pengoplos obat, sehingga berpotensi tinggi untuk menularkan HIV.

d. Diagnosa HIV

Diagnosis infeksi HIV biasanya dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan menunjukkan adanya antibodi spesifik. Berbeda dengan virus lain, antibodi tersebut tidak mempunyai efek perlindungan. Pemeriksaan secara langsung juga dapat dilakukan, yaitu antara lain dengan melakukan biakan virus, antigen virus (p24), asam nukleat virus (Depkes, 2004).


7
Metode umum untuk menetapkan HIV adalah Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA), yang mendeteksi antibodi terhadap HIV-1 dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Positif palsu dapat terjadi pada perempuan yang telah melahirkan beberapa kali, pada yang baru mendapatkan vaksin hepatitis B, HIV, influenza, dan rabies, penerima transfusi darah berulang, dan penderita gagal ginjal atau hati, atau sedang menjalani hemodialisa kronik. Negatif palsu dapat terjadi bila pasien baru terinfeksi, dan tes dilakukan sebelum pembentukan antibodi yang akurat. Waktu minimum untuk terbentuknya antibodi 3-4 minggu dari awal terpapar (Anonimb, 2008).
Western Blot merupakan elektroforesis gel poliakrilamid yang digunakan untuk mendeteksi rantai protein yang spesifik terhadap DNA. Jika tidak ada rantai protein yang ditemukan, berarti tes negatif. Sedangkan bila hampir atau semua rantai protein ditemukan berarti Western Blot positif. Tes Western Blot mungkin juga tidak bisa menyimpulkan seseorang menderita HIV atau tidak. Oleh karena itu, tes harus diulangi lagi setelah dua minggu dengan sampel yang sama. Jika tes Western Blot tetap tidak bisa disimpulkan, maka tes Western Blot harus diulangi lagi setelah 6 bulan. Jika tes tetap negatif maka pasien dianggap HIV negatif (Nursalam dan Kurniawati, 2008).

Beberapa tes cepat untuk deteksi HIV dikembangkan dengan menggunakan teknologi serupa ELISA, dan hasilnya seakurat tes ELISA. Keuntungan tes ini adalah hasilnya bisa didapat hanya dalam beberapa menit. PCR (Polymerase Chain Rection) untuk DNA dan RNA virus sangat sensitif dan spesifik untuk infeksi HIV (Nursalam dan Kurniawati, 2008).

e. Perjalanan HIV/AIDS

Perjalanan klinis pasien dari tahap terinfeksi HIV sampai tahap AIDS, sejalan dengan penurunan derajat imunitas pasien, terutama imunitas seluler dan menunjukkan gambaran penyakit yang kronis.

8


Penurunan imunitas biasanya diikuti adanya peningkatan risiko dan derajat keparahan infeksi oportunistik serta penyakit keganasan. Dari semua orang yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang menjadi AIDS pada tiga tahun pertama, 50% menjadi AIDS sesudah sepuluh tahun, dan hampir 100% pasien HIV menunjukkan gejala AIDS setelah 13 tahun (Nursalam dan Kurniawati, 2008).

Perkembangan infeksi HIV dapat ditandai dengan :

1) Jumlah CD4+

CD4+ adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD4+ pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4+ dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4+ berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD4+ semakin lama akan semakin menurun (Depkes, 2007).

Jumlah CD4+ adalah untuk menentukan pengobatan khususnya antiretroviral (ARV). CD4+ juga digunakan sebagai pemantau respon terapi ARV. Kecepatan penurunan CD4+ (baik jumlah absolut maupun persentase CD4+) telah terbukti dapat dipakai sebagai petunjuk perkembangan penyakit AIDS. Jumlah CD4+ menurun secara bertahap selama perjalanan penyakit. Kecepatan penurunannya dari waktu ke waktu rata-rata 100 sel/tahun. Jumlah
















9

CD4+ lebih menggambarkan progresifitas AIDS dibandingkan dengan tingkat viral load, meskipun nilai prediktif dari viral load akan meningkat seiring dengan lama infeksi. Pemeriksaan CD4+ yang dianjurkan adalah setiap 6 bulan (Depkesa, 2006).
2)   Viral load plasma

Kecepatan peningkatan Viral load (bukan jumlah absolut virus) dapat dipakai untuk memperkirakan perkembangan infeksi HIV. Viral load meningkat secara bertahap dari waktu ke waktu. Pada 3 tahun pertama setelah terjadi serokonversi, viral load berubah seolah hanya pada pasien yang berkembang ke arah AIDS pada masa tersebut. Setelah masa tersebut, perubahan viral load dapat dideteksi, baik akselerasinya maupun jumlah absolutnya, baru keduanya dapat dipakai sebagai petanda progresivitas penyakit (Depkesa, 2006).
f. Stadium Klinis HIV/AIDS

Pada beberapa negara, pemeriksaan limfosit CD4+ tidak tersedia. Dalam hal ini pasien bisa didiagnosa berdasarkan gejala klinis, yaitu tanda dan gejala mayor dan minor. Dua gejala mayor di tambah dua gejala minor didefinisikan sebagai infeksi HIV simptomatik.

1)        Gejala mayor : penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 1 bulan, diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus-menerus, demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan dan tuberkulosis.

2)        Gejala minor : kandidiasis orofaringeal, batuk menetap lebih dari satu bulan, kelemahan tubuh, berkeringat malam, hilang nafsu makan, infeksi kulit generalisata, limfadenopati generalisata, herpes zoster, infeksi herpes simplex kronis, pneumonia, sarkoma kaposi (Nursalam dan Kurniawati, 2008).








10
PENGOBATAN HIV/AIDS
 a. Antiretroviral terapi

Terapi antiretroviral berarti mengobati infeksi HIV dengan obat-obatan. Obat tersebut (yang disebut ARV) tidak membunuh virus, terapi dapat memperlambat pertumbuhan virus. Karena HIV adalah retrovirus, obat-obatan ini biasa disebut sebagai terapi antiretroviral (ART) (Depkes, 2007).

b.      Tujuan pengobatan antiretroviral (ARV) adalah sebagai berikut (Depkes, 2004) :

1)                 Mengurangi laju penularan HIV di masyarakat

2)                 Menurunkan  morbiditas  dan  mortalitas  yang  berhubungan  dengan

HIV

3)                 Memperbaiki kualitas hidup ODHA

4)                 Memulihkan atau memelihara fungsi kekebalan tubuh

5)                 Menekan replikasi virus secara maksimal dan terus menerus

6)                       Mencegah atau mengobati infeksi oportunistik

c.                   Manfaat ART

Antiretroviral merupakan suatu revolusi dalam perawatan ODHA. Terapi dengan antiretroviral atau disingkat ARV telah menyebabkan penurunan angka kematian dan kesakitan bagi ODHA. Manfaat terapi antiretroviral adalah sebagai berikut :

1)                 Menurunkan morbiditas dan mortalitas

2)                 Pasien dengan ARV tetap produktif

3)                 Memulihkan sistem kekebalan tubuh sehingga kebutuhan profilaksis infeksi

4)                 Oportunistik berkurang atau tidak perlu lagi

5)                 Mengurangi penularan karena viral load menjadi rendah atau tidak terdeteksi, namun ODHA dengan viral load tidak terdeteksi, namun harus dipandang tetap menular
11


6)                 Mengurangi biaya rawat inap dan terjadinya yatim piatu

7)                 Mendorong ODHA untuk meminta tes HIV atau mengungkapkan status HIV-nya secara sukarela

d. Penggolongan ARV

Ada tiga golongan utama ARV yaitu

1)                 Penghambat masuknya virus.

Mekanisme kerja dengan cara berikatan dengan subunit GP41 selubung glikoprotein virus sehingga fusi virus ke target sel dihambat. Satu-satunya obat penghambat fusi ini adalah enfuvirtid (Depkes, 2004).
Obat enfuvirtid diindikasikan untuk infeksi HIV dalam kombinasi dengan antiretroviral yang lain. Hati-hati untuk pasien dengan kronik hepatitis B atau C, gangguan hati, gangguan ginjal, kehamilan. Obat ini kontraindikasi terhadap ibu menyusui. Untuk efek sampingnya meliputi reaksi pada tempat suntikan, diare, mual, muntah, sakit kepala, reaksi hipersensitifitas, neuropati perifer. Untuk dosis subkutan 90 mg dua kali sehari (Depkesa, 2006).
2)                 Penghambat reverse transcriptase enzyme

a)                  Analog nukleosida (NRTI)

Mekanisme  :  NRTI  diubah  secara  intraseluler  dalam  3  tahap

penambahan 3 gugus fosfat dan selanjutnya berkompetisi dengan natural nukleotida menghambat RT sehingga perubahan RNA menjadi DNA terhambat. Selain itu NRTI juga menghentikan pemanjangan DNA.








12
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

HIV/AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang mengakibatkan rusaknya/ menurunnya sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit.












































DAFTAR PUSTAKA
Sollod, R. N. (1993). Integrating Spiritual Healing Approaches and Techniques into Psychotherapy. Tanggal diakses 16 Maret 2006.

Spiegel D, Moore R. (2000). Imagery and hypnosis in the treatment of cancer patients. Tanggal

diakses 16 Maret 2006. http: //www .innervisi onstudioi nc.com /orderguided_imagery.html#ws1. Department of Psychiatry and Behavioral Sciences, Stanford University.

Sollod, R. N. (1992). Psychotherapy with Anomalous Experiences. In R. Laibow, R. Soiled, & J.
Wilson (Eds.) Current perspectives on anomalous experiences and trauma (pp. 247-260).
Dobbs Ferry, New York : Treat Publications.

Tart, C. (1990). Altered States of Consciousness, 3rd edition. San Francisco: Harper




Tidak ada komentar:

Posting Komentar