
NAMA KELOMPOK 5:
IKA PUTRI NUR 161.0045
KOKOH ABIMEI 161.0055
OKTAVHIA PERMATA 161.0081
PUTRI AYU DEWI 161.0085
PROGRAM STUDI S1
KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI
ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2018
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas
segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki
bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan
karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini.
Surabaya,
11 Desember 2018
Penulis
DAFTAR
ISI
Cover
Kata
Pengantar
Daftar
Isi
Bab
1 Pendahuluan
a.
Latar Belakang................................................................................................................ 1
b.
Rumusan masalah........................................................................................................... 3
c.
Tujuan penulisan............................................................................................................. 4
Bab
2 Tinjauan Pustaka
a. Definisi HIV/AIDS........................................................................................................ 5
b. Penyebab HIV/AIDS .................................................................................................... 5
c. Penularan HIV/AIDS .................................................................................................... 6
d. Diagnosa HIV/AIDS ..................................................................................................... 7
e. Perjalanan HIV/AIDS.................................................................................................... 8
f. Stadium Klinis HIV/AIDS............................................................................................. 10
B. PENGOBATAN
HIV/AIDS
a.
Antiretroviral terapi 11
b. Tujuan
pengobatan ARV ................................................................................................ 11
c. Manfaat ARV 11
Bab
3 Penutup
A.
Kesimpulan................................................................................................................... 12
Daftar
Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala-gejala penyakit infeksi atau
keganasan tertentu yang timbul sebagai akibat menurunnya daya tahan tubuh
(kekebalan) penderita (Rachimhadhi et.al,
1992). Gejala klinik umumnya adalah penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 1 bulan, diare kronis lebih
dari satu bulan berulang maupun terus-menerus, demam berkepanjangan lebih dari
1 bulan (Depkes, 1997).
Penyebab
AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus
(HIV), yaitu virus yang menyebabkan penurunan daya kekebalan tubuh. Virus ini
adalah retrovirus yang termasuk dalam famili lentevirus. HIV menyebabkan
beberapa kerusakan sistem imun dan menghancurkannya. Hal tersebut terjadi
dengan menggunakan DNA dari CD4+ dan limfosit untuk mereplikasi
diri. Dalam proses itu, virus tersebut menghancurkan CD4+ dan
limfosit (Nursalam dan Kurniawati, 2008).
Kasus
AIDS dilaporkan pada tahun 1981, di Amerika Serikat. Sejak itu, kasus AIDS di
dunia makin lama makin banyak dilaporkan dan merupakan persoalan kesehatan
masyarakat di beberapa negara. Bahkan masalah AIDS mempunyai implikasi yang
bersifat internasional dengan angka mortalitas 80% pada penderita. Chermann dan
Barre Sinoussi (1985) melaporkan bahwa penderita AIDS di seluruh dunia mencapai
lebih dari 12.000 orang diantaranya
1
10.000
kasus di Amerika Serikat, 400 kasus di Perancis dan sisanya di negara Eropa
lainnya, Amerika Latin dan Afrika. Satu tahun kemudian dilaporkan bahwa jumlah
kasus AIDS di Amerika meningkat menjadi 15.000 orang dan Perancis menjadi 445
orang (Anonim, 1992).
Di
Indonesia pertama kali mengetahui adanya kasus AIDS pada bulan April tahun
1987, pada seorang warganegara Belanda yang meninggal di RSUP Sanglah Bali
akibat infeksi sekunder pada paru-paru, sampai pada tahun 1990 penyakit ini
masih belum mengkhawatirkan, namun sejak awal tahun 1991 telah mulai adanya
peningkatan kasus HIV/AIDS menjadi
dua kali lipat (doubling time) kurang
dari setahun, bahkan mengalami peningkatan kasus secara ekponensial (Rasmaliah,
2001).
Kasus
HIV/AIDS di Indonesia semakin meningkat. Di Indonesia sejak tahun 1999 telah
terjadi peningkatan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) pada sub populasi
tertentu di beberapa provinsi yang memang mempunyai prevalensi HIV cukup
tinggi. Peningkatan ini terjadi pada kelompok orang berperilaku berisiko tinggi
tertular HIV yaitu para pekerja seks komersial dan pengguna NAPZA suntikan di 6
provinsi: DKI Jakarta, Papua, Riau, Bali, Jabar dan Jawa Timur telah tergolong
sebagai daerah dengan tingkat epidemi terkonsentrasi (concentrated level of epidemic). Bila masalah ini tidak
ditanggulangi segera, kemungkinan besar epidemi akan bergerak menjadi epidemi
yang menyeluruh dan parah (generalized
epidemic) (Depkes, 2006).
2
Kumulatif
kasus AIDS diperkirakan sampai pada jumlah 30.000-93.968 pada tahun 2002. Pada
tahun 2010, diperkirakan ada 1 juta-5 juta kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari
jumlah tersebut diperkirakan sebanyak 10.000 ODHA yang membutuhkan ART (Terapi
Antiretroviral) segera (Depkesa, 2006).
Masalah yang dihadapi dalam penanganan kasus HIV/AIDS adalah
kesulitan dalam mendapatkan obat, mahalnya harga obat antiretroviral (ARV) dan
kurangnya informasi dan pemahaman tentang HIV/AIDS. ARV generik buatan
Indonesia sudah tersedia namun belum didukung oleh kesiapan tenaga medis dan
apoteker dalam mendukung keberhasilan terapi (Depkesa, 2006).
Penelitian
ini akan dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta karena
rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit pendidikan dan terdapat 64 kasus
HIV/AIDS pada tahun 2009. Dan HIV/AIDS termasuk kasus yang jarang terjadi di
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta tahun 2009. Berdasarkan uraian
di atas maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui bagaimanakah
gambaran penggunaan antiretroviral dan apakah penggunaan antiretroviral untuk
HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta tahun 2009 sudah
sesuai dengan standar yang ada.
b.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana pola pengobatan
antiretroviral pada pasien HIV/AIDS di RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode
tahun 2009?
2. Bagaimana kesesuaian pola pengobatan
antiretroviral pada pasien HIV/AIDS tersebut dengan Pedoman Nasional Terapi
Antiretroviral Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2007?
3
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan
dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui pola pengobatan dengan
antiretroviral pada pasien HIV/AIDS di RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode
tahun 2009.
2. Mengetahui kesesuaian pola
pengobatan antiretroviral pada pasien HIV/AIDS tersebut dengan standar Pedoman
Nasional Terapi Antiretroviral Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2007.
4
BAB
2
TINJAUAN
PUSTAKA
a. Definisi HIV/AIDS
HIV/AIDS
merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang
mengakibatkan rusaknya/ menurunnya sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai
penyakit (Rasmaliah, 2001).Virus ini ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada
darah, cairan sperma, cairan vagina, dan ASI (Air Susu Ibu). Virus tersebut
merusak sistem kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan
Menurut
Center for Disease Control and Prevention
(CDC) definisi AIDS adalah semua yang dinyatakan mengidap infeksi HIV dengan jumlah
CD4 limfosit T kurang dari 200 sel/L.
Penyakit-penyakit yang merupakan petunjuk adanya AIDS adalah tuberculosis paru,
pneumonia bakterial berulang dan kanker serviks yang invasif (Adler, 2001).
AIDS merupakan stadium akhir infeksi HIV. Penderita dinyatakan sebagai AIDS
bila dalam perkembangan infeksi HIV selanjutnya menunjukkan infeksi-infeksi
yang mengancam jiwa penderita (Anonim, 2001).
b. Penyebab HIV/AIDS
Penyebab
HIV/AIDS adalah Human Immunodeficiency
Virus (HIV), yaitu virus yang menyebabkan penurunan daya kekebalan tubuh.
Virus ini adalah retrovirus yang termasuk dalam famili lentevirus. HIV
mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA pejamu untuk membentuk virus
DNA dan dikenali selama periode inkubasi yang panjang. Seperti retrovirus yang
lain, HIV menginfeksi tubuh dengan periode inkubasi yang panjang
(klinik-laten), dan utamanya menyebabkan munculnya tanda dan gejala AIDS. HIV
menyebabkan beberapa kerusakan sistem imun dan menghancurkannya. Hal tersebut
terjadi
5
dengan
menggunakan DNA dari CD4+ dan limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam
proses itu, virus tersebut menghancurkan CD4+ dan limfosit (Nursalam
dan Kurniawati, 2008)
Virus ini mempunyai kemampuan yang
unik untuk mentransfer informasi genetik mereka dari RNA ke DNA dengan
menggunakan enzim yang disebut dengan reverse
transcriptase, cara ini merupakan kebalikan dari proses transkripsi (dari
DNA ke RNA) dan translasi (dari RNA ke protein) (Muma et. al, 1997).
c. Penularan HIV/AIDS
HIV terdapat dalam cairan tubuh seseorang seperti darah,
cairan kelamin (air mani atau cairan vagina yang telah terinfeksi) dan air susu
ibu yang telah terinfeksi. Sedangkan AIDS (Acquired
Immune Deficiency Syndrome) yaitu
sindrom menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh
berbagai macam penyakit karena sistem kekebalan tubuh penderita telah menurun
(Depkesa, 2006).
Virus HIV
menular melalui enam
cara penularan (Nursalam
dan
Kurniawati, 2008) yaitu :
1) Hubungan seksual dengan pengidap
HIV/AIDS
Hubungan seksual secara vaginal, anal, dan oral dengan
penderita HIV tanpa perlindungan bisa menularkan HIV. Selama hubungan seksual
berlangsung, air mani, cairan vagina, dan darah dapat mengenai selaput lendir
vagina, penis, dubur, atau mulut sehingga HIV yang terdapat dalam cairan tersebut
masuk ke aliran darah.
Penularan HIV dari ibu bisa terjadi pada saat kehamilan (in utero). Berdasarkan laporan CDC
Amerika, prevalensi peularan HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01% sampai 0,7%.
Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS, kemungkinan bayi
terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%, sedangkan kalau gejala AIDS sudah jelas
pada ibu kemungkinannya mencapai 50%, penularan juga terjadi selama proses
persalinan melalui transfusi fetomaternal
atau kontak antara kulit atau membran mukosa bayi dengan darah atau sekresi
6
maternal
saat melahirkan. Semakin lama proses melahirkan, semakin besar risiko
penularan.
Oleh karena itu, lama persalinan bisa dipersingkat dengan
operasi sectio caesari. Transmisi
lain terjadi selama periode post parturm
melalui ASI. Risiko bayi tertular melalui ASI dari ibu yang positif sekitar
10%.
3)
Darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS
Sangat cepat menularkan HIV karena
virus langsung masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
4)
Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril
Alat pemeriksaan kandungan seperti
spekulum, tenakulum, dan alat-alat lain yang dapat menyentuh darah, cairan
vagina atau air mani yang terinfeksi HIV, dan langsung digunakan untuk orang
lain yang tidak terinfeksi bisa menularkan HIV.
5)
Alat-alat untuk menoreh kulit
Alat
tajam dan runcing seperti jarum, pisau, silet, menyunat seseorang, membuat
tato, dan sebagainya bisa menularkan HIV sebab alat tersebut mungkin dipakai
tanpa disterilkan terlebih dahulu.
6)
Menggunakan jarum suntik secara bergantian
Jarum suntik yang digunakan di
fasilitasi kesehatan, maupun yang digunakan oleh para pengguna narkoba (injecting Drug User-UDU) sangat
berpotensi menularkan HIV. Selain jarum suntik, pada para pemakai UDU secara
bersama-sama juga menggunakan tempat penyampur, pengaduk, dan gelas pengoplos
obat, sehingga berpotensi tinggi untuk menularkan HIV.
d.
Diagnosa HIV
Diagnosis infeksi HIV biasanya
dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan menunjukkan adanya antibodi
spesifik. Berbeda dengan virus lain, antibodi tersebut tidak mempunyai efek
perlindungan. Pemeriksaan secara langsung juga dapat dilakukan, yaitu antara
lain dengan melakukan biakan virus, antigen virus (p24), asam nukleat virus
(Depkes, 2004).
7
Metode umum untuk menetapkan HIV
adalah Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA), yang
mendeteksi antibodi terhadap HIV-1 dengan
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Positif palsu dapat terjadi pada
perempuan yang telah melahirkan beberapa kali, pada yang baru mendapatkan
vaksin hepatitis B, HIV, influenza, dan rabies, penerima transfusi darah
berulang, dan penderita gagal ginjal atau hati, atau sedang menjalani
hemodialisa kronik. Negatif palsu dapat terjadi bila pasien baru
terinfeksi, dan tes dilakukan sebelum pembentukan antibodi yang akurat. Waktu
minimum untuk terbentuknya antibodi 3-4 minggu dari awal terpapar (Anonimb,
2008).
Western Blot merupakan
elektroforesis gel poliakrilamid yang digunakan untuk mendeteksi rantai protein
yang spesifik terhadap DNA. Jika tidak ada rantai protein yang ditemukan,
berarti tes negatif. Sedangkan bila hampir atau semua rantai protein ditemukan
berarti Western Blot positif. Tes Western Blot mungkin juga tidak bisa
menyimpulkan seseorang menderita HIV atau tidak. Oleh karena itu, tes harus
diulangi lagi setelah dua minggu dengan sampel yang sama. Jika tes Western Blot
tetap tidak bisa disimpulkan, maka tes Western Blot harus diulangi lagi setelah
6 bulan. Jika tes tetap negatif maka pasien dianggap HIV negatif (Nursalam dan
Kurniawati, 2008).
Beberapa tes cepat untuk deteksi HIV
dikembangkan dengan menggunakan teknologi serupa ELISA, dan hasilnya seakurat
tes ELISA. Keuntungan tes ini adalah hasilnya bisa didapat hanya dalam beberapa
menit. PCR (Polymerase Chain Rection)
untuk DNA dan RNA virus sangat sensitif dan spesifik untuk infeksi HIV
(Nursalam dan Kurniawati, 2008).
e.
Perjalanan HIV/AIDS
Perjalanan klinis pasien dari tahap
terinfeksi HIV sampai tahap AIDS, sejalan dengan penurunan derajat imunitas
pasien, terutama imunitas seluler dan menunjukkan gambaran penyakit yang
kronis.
8
Penurunan
imunitas biasanya diikuti adanya peningkatan risiko dan derajat keparahan
infeksi oportunistik serta penyakit keganasan. Dari semua orang yang terinfeksi
HIV, sebagian berkembang menjadi AIDS pada tiga tahun pertama, 50% menjadi AIDS
sesudah sepuluh tahun, dan hampir 100% pasien HIV menunjukkan gejala AIDS
setelah 13 tahun (Nursalam dan Kurniawati, 2008).
Perkembangan infeksi HIV dapat ditandai dengan :
1) Jumlah CD4+
CD4+
adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih
manusia, terutama sel-sel limfosit. CD4+ pada orang dengan sistem
kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4+
dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit
yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia.
Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4+ berkisar
antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu
(misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD4+ semakin lama akan
semakin menurun (Depkes, 2007).
Jumlah
CD4+ adalah untuk menentukan pengobatan khususnya antiretroviral
(ARV). CD4+ juga digunakan sebagai pemantau respon terapi ARV. Kecepatan penurunan CD4+ (baik jumlah absolut
maupun persentase CD4+) telah terbukti dapat dipakai sebagai
petunjuk perkembangan penyakit AIDS. Jumlah CD4+ menurun secara
bertahap selama perjalanan penyakit. Kecepatan penurunannya dari waktu ke waktu
rata-rata 100 sel/tahun. Jumlah
9
CD4+
lebih menggambarkan progresifitas AIDS dibandingkan dengan tingkat viral load, meskipun nilai prediktif
dari viral load akan meningkat seiring dengan
lama infeksi. Pemeriksaan CD4+ yang dianjurkan adalah setiap 6 bulan
(Depkesa, 2006).
2) Viral
load plasma
Kecepatan
peningkatan Viral load (bukan jumlah
absolut virus) dapat dipakai untuk memperkirakan perkembangan infeksi HIV. Viral load meningkat secara bertahap
dari waktu ke waktu. Pada 3 tahun pertama setelah terjadi serokonversi, viral load berubah seolah hanya pada
pasien yang berkembang ke arah AIDS pada masa tersebut. Setelah masa tersebut,
perubahan viral load dapat dideteksi,
baik akselerasinya maupun jumlah absolutnya, baru keduanya dapat dipakai
sebagai petanda progresivitas penyakit (Depkesa, 2006).
f. Stadium Klinis HIV/AIDS
Pada
beberapa negara, pemeriksaan limfosit CD4+ tidak tersedia. Dalam hal
ini pasien bisa didiagnosa berdasarkan gejala klinis, yaitu tanda dan gejala
mayor dan minor. Dua gejala mayor di tambah dua gejala minor didefinisikan
sebagai infeksi HIV simptomatik.
1)
Gejala
mayor : penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 1 bulan, diare kronis lebih
dari satu bulan berulang maupun terus-menerus, demam berkepanjangan lebih dari
1 bulan dan tuberkulosis.
2)
Gejala
minor : kandidiasis orofaringeal, batuk menetap lebih dari satu bulan,
kelemahan tubuh, berkeringat malam, hilang nafsu makan, infeksi
kulit generalisata, limfadenopati generalisata, herpes zoster, infeksi herpes
simplex kronis, pneumonia, sarkoma kaposi (Nursalam dan Kurniawati, 2008).
10
PENGOBATAN
HIV/AIDS
a. Antiretroviral terapi
Terapi antiretroviral berarti mengobati infeksi HIV dengan
obat-obatan. Obat tersebut (yang disebut ARV) tidak membunuh virus, terapi
dapat memperlambat pertumbuhan virus. Karena HIV adalah retrovirus, obat-obatan
ini biasa disebut sebagai terapi antiretroviral (ART) (Depkes, 2007).
b.
Tujuan pengobatan antiretroviral
(ARV) adalah sebagai berikut (Depkes, 2004) :
1)
Mengurangi laju penularan HIV di masyarakat
2)
Menurunkan morbiditas
dan mortalitas yang
berhubungan dengan
HIV
3)
Memperbaiki kualitas hidup ODHA
4)
Memulihkan atau memelihara fungsi
kekebalan tubuh
5)
Menekan replikasi virus secara
maksimal dan terus menerus
c.
Manfaat ART
Antiretroviral merupakan suatu revolusi dalam perawatan
ODHA. Terapi dengan antiretroviral atau disingkat ARV telah menyebabkan
penurunan angka kematian dan kesakitan bagi ODHA. Manfaat terapi antiretroviral
adalah sebagai berikut :
1)
Menurunkan morbiditas dan mortalitas
2)
Pasien dengan ARV tetap produktif
3)
Memulihkan
sistem kekebalan tubuh sehingga kebutuhan profilaksis infeksi
4)
Oportunistik berkurang atau tidak
perlu lagi
5)
Mengurangi
penularan karena viral load menjadi
rendah atau tidak terdeteksi, namun ODHA dengan viral load tidak terdeteksi, namun harus dipandang tetap menular
11
6)
Mengurangi biaya rawat inap dan
terjadinya yatim piatu
7)
Mendorong
ODHA untuk meminta tes HIV atau mengungkapkan status HIV-nya secara sukarela
d. Penggolongan ARV
Ada tiga golongan utama ARV yaitu
1)
Penghambat masuknya virus.
Mekanisme kerja dengan cara berikatan dengan subunit GP41
selubung glikoprotein virus sehingga fusi virus ke target sel dihambat.
Satu-satunya obat penghambat fusi ini adalah enfuvirtid (Depkes, 2004).
Obat enfuvirtid diindikasikan untuk
infeksi HIV dalam kombinasi dengan antiretroviral yang lain. Hati-hati untuk
pasien dengan kronik hepatitis B atau C, gangguan hati, gangguan ginjal,
kehamilan. Obat ini kontraindikasi terhadap ibu menyusui. Untuk efek sampingnya
meliputi reaksi pada tempat suntikan, diare, mual, muntah, sakit kepala, reaksi
hipersensitifitas, neuropati perifer. Untuk dosis subkutan 90 mg dua kali
sehari (Depkesa, 2006).
2)
Penghambat
reverse transcriptase enzyme
a)
Analog nukleosida (NRTI)
Mekanisme :
NRTI diubah secara
intraseluler dalam 3
tahap
penambahan 3 gugus fosfat dan selanjutnya berkompetisi
dengan natural nukleotida menghambat RT sehingga perubahan RNA menjadi DNA
terhambat. Selain itu NRTI juga menghentikan pemanjangan DNA.
12
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
HIV/AIDS merupakan kumpulan
gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang mengakibatkan rusaknya/
menurunnya sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
Sollod, R. N. (1993). Integrating Spiritual Healing Approaches and Techniques
into Psychotherapy. Tanggal diakses 16 Maret 2006.
Spiegel
D, Moore R. (2000). Imagery and hypnosis in the treatment of cancer patients.
Tanggal
diakses 16 Maret 2006. http: //www
.innervisi onstudioi nc.com /orderguided_imagery.html#ws1. Department of Psychiatry and Behavioral Sciences, Stanford University.
Sollod,
R. N. (1992). Psychotherapy with
Anomalous Experiences. In R. Laibow, R. Soiled, & J.
Wilson
(Eds.) Current perspectives on anomalous experiences and trauma (pp. 247-260).
Dobbs
Ferry, New York : Treat Publications.
Tart, C.
(1990). Altered States of Consciousness,
3rd edition. San Francisco: Harper
Tidak ada komentar:
Posting Komentar